Masakan Ibu
Di restoran mana yang paling mewah?
Dengan menu yang tak terlupan? Menu yang tetap enak diamakan walau bertabur
tangis? Tangis yang selalu meminta-minta pulang ke restoran itu.
Restoran itu bernama “rumahku” serta
daftar menunya bertitle “ Masakan Ibu”. Kapan terakhir mencobanya. Pasti akan berasa
di ujung lidah. Bagaimana warnanya tentu akan menggoda. Aroma yang polos
mengendus hidung. Masakan ibu adalah sesuatu yang paling akrab dengan lidah
kita. Rasa-rasa yang akan membuat kita bernostalgia dengan masa-masa yang
mungkin sangat membahagiakan.
Para
Ibu tentu akan mengerahkan kemampuan sebisanya untuk menghadirkan
makanan bagi keluarga tercinta. Walau harus berpeluh ke pasar, mengeluarkan
uang banyak, hingga membawa masakan orang lain ke atas meja(boleh-boleh saja).
Sebagai kebutuhan pokok makanan akan
membuat ingatan pada orang yang memakannya. Beruntunglah bagi anak-anak yang
mempunyai masakan asli ibu, dengan khasnya sendiri. Makanan biasa yang mengepul
dimuka para bocah-bocah, oh manisnya. Masakan itu terekam oleh memori dan akan
mengalahkan seluruh restoraan di dunia. Ketika dewasa kala berkumpul mungkin
sang anak akan mencoba membuatnya jika sang ibu tiada. Coba ingat apakah
masakan itu masih ada dibawah tudung saji kita?
Senanglah seorang ibu yang memasak,
satu kuali dan habis. Walau rasanya tak selegit restoran bintang selangit. Tapi
anaknya suka. Suaminya mengkritik dan memuji. Makan banyak, nasi habis tak
terbuang. Senangnya bisa bikin melayang. Sekarang “ibu memasak” mulai berkurang
setitik demi setitik. Padahal masakan adalah salah satu bentuk komunikasi pada
semua anggota keluarga.
“Bagaimana asinnya?” Tanya ibu.
“Enak sekali. Tapi sayurnya terlalu
masak bu!” komentar anak.
“Asinnya dikit lagi dong!”balas sang
suami.
“Ah, pas kok. Nanti kolesterol lho mas?”bela sang ibu.
“Emang garam bisa bikin
kolesterol”Tanya si suami. Percakapan panjang itu berawal dari oseng sayur
seorang ibu. Kapan massakan menghadirkan wacana dimeja anda?
Masakan ibu adalah ingatan yang
mengikat banyak orang. Wlaua telah melintas benua. Walau ia telah tiada.
Bagi yang belum pernah dan takkan
pernah bisa merasakannya. Maka buatlah masakan itu serasa hidangan beliau.
Hidangkan pada orang yang anda cintai. Buatlah mereka tersenyum seperti beliau
yang tak ada. Bahagialah dengan sosok ibu memasak. Karena tentu anda kan dirindukan anak dan
suami anda.
Sekali lagi. Coba ingat apakah
masakan itu masih ada dibawah tudung saji kita?
Mari menocaba tersenyum bahgiaaaaaaa....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar