Sabtu, 04 Agustus 2012


Masakan Ibu

Di restoran mana yang paling mewah? Dengan menu yang tak terlupan? Menu yang tetap enak diamakan walau bertabur tangis? Tangis yang selalu meminta-minta pulang ke restoran itu.

Restoran itu bernama “rumahku” serta daftar menunya bertitle “ Masakan Ibu”. Kapan terakhir mencobanya. Pasti akan berasa di ujung lidah. Bagaimana warnanya tentu akan menggoda. Aroma yang polos mengendus hidung. Masakan ibu adalah sesuatu yang paling akrab dengan lidah kita. Rasa-rasa yang akan membuat kita bernostalgia dengan masa-masa yang mungkin sangat membahagiakan.

Para  Ibu tentu akan mengerahkan kemampuan sebisanya untuk menghadirkan makanan bagi keluarga tercinta. Walau harus berpeluh ke pasar, mengeluarkan uang banyak, hingga membawa masakan orang lain ke atas meja(boleh-boleh saja).

Sebagai kebutuhan pokok makanan akan membuat ingatan pada orang yang memakannya. Beruntunglah bagi anak-anak yang mempunyai masakan asli ibu, dengan khasnya sendiri. Makanan biasa yang mengepul dimuka para bocah-bocah, oh manisnya. Masakan itu terekam oleh memori dan akan mengalahkan seluruh restoraan di dunia. Ketika dewasa kala berkumpul mungkin sang anak akan mencoba membuatnya jika sang ibu tiada. Coba ingat apakah masakan itu masih ada dibawah tudung saji kita?

Senanglah seorang ibu yang memasak, satu kuali dan habis. Walau rasanya tak selegit restoran bintang selangit. Tapi anaknya suka. Suaminya mengkritik dan memuji. Makan banyak, nasi habis tak terbuang. Senangnya bisa bikin melayang. Sekarang “ibu memasak” mulai berkurang setitik demi setitik. Padahal masakan adalah salah satu bentuk komunikasi pada semua anggota keluarga.

“Bagaimana asinnya?” Tanya ibu.
“Enak sekali. Tapi sayurnya terlalu masak bu!” komentar anak.
“Asinnya dikit lagi dong!”balas sang suami.
“Ah, pas kok. Nanti kolesterol  lho mas?”bela sang ibu.
“Emang garam bisa bikin kolesterol”Tanya si suami. Percakapan panjang itu berawal dari oseng sayur seorang ibu. Kapan massakan menghadirkan wacana dimeja anda?

Masakan ibu adalah ingatan yang mengikat banyak orang. Wlaua telah melintas benua. Walau ia telah tiada.

Bagi yang belum pernah dan takkan pernah bisa merasakannya. Maka buatlah masakan itu serasa hidangan beliau. Hidangkan pada orang yang anda cintai. Buatlah mereka tersenyum seperti beliau yang tak ada. Bahagialah dengan sosok ibu memasak. Karena tentu anda kan dirindukan anak dan suami anda.

Sekali lagi. Coba ingat apakah masakan itu masih ada dibawah tudung saji kita?

Mari menocaba tersenyum bahgiaaaaaaa....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar